Kalau Aku Meminta kepada Allah, Mengapa Aku Harus Merasa Bersalah?

Catatan reflektif tentang ibadah yang dianggap transaksional, proses keikhlasan, dan satu hal yang bagi saya jauh lebih penting: kepada siapa kita meminta.

Ada sebuah fenomena sosial-keagamaan yang beberapa waktu terakhir cukup sering saya amati. Fenomena ini sebenarnya sederhana, tetapi semakin saya perhatikan, semakin saya merasa ada sesuatu yang perlu kita bicarakan secara lebih jernih.

Saya menemukan dua kelompok orang yang menarik untuk diamati. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengkritik bentuk ibadah tertentu karena dianggap terlalu “transaksional”. Mereka mengatakan, misalnya, bahwa shalat dhuha seharusnya dilakukan karena Allah, bukan karena ingin mendapatkan rezeki. Puasa seharusnya dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin usaha lancar. Membaca Al-Qur’an seharusnya dilakukan karena kecintaan kepada Allah, bukan karena berharap mendapatkan sesuatu. Dalam pandangan ini, seseorang dianggap belum benar-benar ikhlas apabila ia melakukan ibadah tertentu dengan tujuan memperoleh sesuatu dari Allah.

Saya memahami maksud dari pandangan tersebut. Bahkan saya tidak menolak bahwa ada bentuk keikhlasan yang lebih matang. Saya percaya bahwa dalam perjalanan spiritual, seseorang memang dapat tumbuh dari beribadah karena mengharapkan sesuatu menjadi beribadah karena Allah semata. Ada perkembangan orientasi yang sangat mungkin terjadi dalam diri seseorang.

Tetapi ada kelompok kedua yang justru membuat saya lebih prihatin. Saya bertemu dengan orang-orang yang akhirnya merasa bersalah karena terlalu banyak meminta kepada Allah. Mereka ingin jodoh, lalu merasa bersalah ketika shalat dhuha karena berharap mendapatkan jodoh. Mereka ingin rezekinya lancar, lalu merasa tidak nyaman ketika membaca Al-Qur’an sambil berharap Allah memudahkan rezekinya. Mereka ingin usahanya berhasil, lalu merasa ibadahnya menjadi tidak tulus karena di dalam hati mereka ada keinginan agar Allah memberikan keberhasilan.

Yang menarik, sebagian dari mereka tidak kemudian mencari pertolongan kepada selain Allah. Mereka tidak pergi ke dukun. Mereka tidak mencari pesugihan. Mereka tidak melakukan ritual yang mengarahkan ketergantungan kepada kekuatan selain Allah. Mereka tetap datang kepada Allah. Mereka tetap shalat. Mereka tetap berdoa. Tetapi mereka melakukannya sambil membawa rasa bersalah: “Jangan-jangan saya tidak ikhlas. Jangan-jangan ibadah saya salah. Jangan-jangan saya hanya sedang bertransaksi dengan Tuhan.”

Di titik inilah saya mulai mempertanyakan cara kita berbicara tentang keikhlasan.

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “ibadah transaksional”?

Saya menggunakan istilah “transaksional” di sini bukan sebagai istilah fikih atau istilah teologis yang baku. Saya menggunakannya sebagai istilah sederhana untuk menggambarkan sebuah pola yang sering kita jumpai.

Misalnya, seseorang ingin mendapatkan jodoh. Ia kemudian mulai rajin melakukan shalat dhuha karena meyakini bahwa shalat dhuha dapat menjadi jalan bagi Allah untuk membuka rezeki atau memudahkan urusannya, termasuk urusan jodoh. Jadi, dalam pikirannya ada hubungan yang cukup jelas: saya melakukan shalat dhuha, saya memohon kepada Allah, dan saya berharap melalui ibadah itu Allah memberikan apa yang saya inginkan.

Contoh lain, seseorang ingin usahanya lancar. Ia kemudian membiasakan diri berpuasa Senin dan Kamis dengan harapan Allah memberikan kelancaran, perlindungan, dan keberkahan bagi usahanya. Ada keyakinan bahwa puasa tersebut bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi salah satu jalan yang ia tempuh untuk mendekat kepada Allah dan memohon agar urusannya dimudahkan.

Kita juga bisa menemukan orang yang secara rutin membaca surat tertentu karena berharap mendapatkan kemudahan rezeki. Misalnya, ada orang yang membaca surat Al-Waqiah secara rutin dengan keyakinan bahwa melalui amalan tersebut Allah akan melapangkan rezekinya. Saya sengaja menyebutnya sebagai contoh praktik dan keyakinan yang hidup di masyarakat, bukan sebagai penetapan bahwa ada dalil sahih yang secara khusus menjamin hubungan antara membaca surat tersebut dan kelancaran rezeki.

Dalam semua contoh itu, terdapat pola yang sama: ibadah tertentu dilakukan dengan harapan memperoleh hasil tertentu dari Allah.

Inilah yang biasanya disebut sebagai ibadah yang “transaksional”.

Dan justru bentuk inilah yang ingin saya bicarakan.

Sebab menurut saya, ada kecenderungan kita terlalu cepat mengatakan, “Kalau begitu ibadahmu tidak ikhlas.” Padahal saya ingin mengajak kita melihat persoalannya dari sudut yang sedikit berbeda.

Kalau seseorang melakukan shalat dhuha karena ingin rezekinya lancar, memang kita bisa mengatakan bahwa motivasinya belum mencapai bentuk keikhlasan yang paling tinggi. Kalau seseorang berpuasa karena berharap usahanya berhasil, mungkin kita bisa mengatakan bahwa masih ada orientasi hasil di dalam ibadahnya. Kalau seseorang melakukan amalan tertentu karena berharap sesuatu dari Allah, mungkin memang ada proses spiritual yang masih harus ia jalani.

Tetapi pertanyaan saya adalah: apakah itu berarti ia sedang berada di jalan yang salah?

Saya tidak yakin.

Bahkan saya cenderung mengatakan: belum tentu.

Saya lebih suka melihatnya sebagai anak tangga

Bagi saya, perjalanan spiritual manusia tidak selalu berbentuk hitam dan putih. Ia lebih menyerupai anak tangga.

Seseorang mungkin berada di anak tangga pertama ketika ia berkata, “Ya Allah, saya ingin mendapatkan jodoh. Karena itu saya rajin shalat dhuha dan meminta kepada-Mu.” Orang lain mungkin sudah berada di anak tangga yang lebih tinggi ketika ia berkata, “Saya tetap shalat dhuha karena Allah, tetapi saya juga memohon kepada-Nya agar diberikan jodoh yang baik.” Orang lain lagi mungkin sudah sampai pada tahap ketika ia berkata, “Saya tetap beribadah kepada Allah meskipun jodoh yang saya minta belum diberikan.”

Dan mungkin ada orang yang lebih jauh lagi perjalanannya, sampai pada titik di mana ia berkata, “Saya beribadah kepada Allah bukan karena apa yang akan saya dapatkan dari-Nya. Saya beribadah karena Dia adalah Tuhan saya dan memang layak disembah.”

Saya tidak mempunyai masalah dengan anak tangga terakhir. Justru saya menganggapnya sebagai bentuk kematangan spiritual yang indah.

Yang saya persoalkan adalah ketika seseorang yang berada di anak tangga terakhir kemudian menoleh ke bawah dan berkata kepada orang yang masih berada di anak tangga pertama, “Kamu salah. Jangan shalat karena ingin rezeki. Jangan puasa karena ingin usaha lancar. Jangan membaca Al-Qur’an karena ingin sesuatu. Kalau begitu berarti kamu tidak ikhlas.”

Menurut saya, kita perlu membedakan antara menunjukkan arah perjalanan dan menghakimi posisi seseorang dalam perjalanan.

Kita boleh mengatakan bahwa ada tingkat keikhlasan yang lebih tinggi. Tetapi menurut saya, kita tidak perlu membuat orang yang belum sampai ke sana merasa bahwa langkah pertamanya adalah sebuah dosa.

Kalau seseorang baru mampu beribadah karena ia sedang membutuhkan sesuatu dari Allah, biarkan ia berproses.

Yang penting, ia tetap datang kepada Allah.

Saya justru bersyukur ketika seseorang meminta kepada Allah

Ini mungkin bagian yang paling personal dari refleksi saya.

Kalau saya melihat seseorang berkata, “Saya sedang membutuhkan jodoh, maka saya shalat dan berdoa kepada Allah,” saya justru merasa ada sesuatu yang patut disyukuri.

Kalau seseorang berkata, “Saya ingin rezeki saya lancar, maka saya shalat dhuha dan berdoa kepada Allah,” saya juga tidak ingin buru-buru mengatakan, “Itu transaksional.”

Saya ingin mengatakan: Alhamdulillah.

Mengapa?

Karena ketika seseorang membutuhkan sesuatu, pertanyaan yang jauh lebih penting bagi saya bukan pertama-tama, “Apakah motivasi ibadahmu sudah sempurna?” Pertanyaan pertama saya adalah, “Kepada siapa kamu meminta?”

Ini sangat penting.

Manusia memang membutuhkan sesuatu. Itu bukan cacat manusia. Kita memang makhluk yang membutuhkan.

Kita membutuhkan kesehatan. Kita membutuhkan rezeki. Kita membutuhkan pasangan. Kita membutuhkan perlindungan. Kita membutuhkan pertolongan. Kita membutuhkan jalan keluar. Kita membutuhkan ketenangan. Kita membutuhkan kekuatan ketika menghadapi sesuatu yang tidak mampu kita kendalikan.

Kebutuhan itu akan tetap ada.

Maka saya tidak terlalu tertarik pada pertanyaan, “Mengapa kamu meminta?”

Saya lebih tertarik pada pertanyaan:

“Ketika kamu membutuhkan, kepada siapa kamu meminta?”

Bagi saya, di situlah tauhid menjadi sangat nyata.

Ketika saya membutuhkan sesuatu dan saya datang kepada Allah, saya merasa bersyukur.

Saya mungkin belum sempurna dalam niat. Saya mungkin masih sangat manusiawi. Saya mungkin masih memiliki banyak keinginan duniawi. Saya mungkin masih berharap Allah memberikan sesuatu kepada saya.

Tetapi saya tahu kepada siapa saya meminta.

Dan bagi saya, itu bukan hal kecil.

Al-Qur’an tidak menyuruh manusia berhenti meminta

Justru menarik bahwa ketika Al-Qur’an berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, aktivitas meminta tidak digambarkan sebagai sesuatu yang memalukan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 186:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

Ayat ini menarik karena Allah tidak mengatakan kepada manusia untuk berhenti meminta sampai mereka mencapai tingkat spiritual tertentu. Justru Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan yang dekat dan menjawab doa orang yang berdoa kepada-Nya.

Lebih tegas lagi, dalam QS. Ghafir ayat 60 Allah berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”

Dan ayat itu kemudian melanjutkan dengan peringatan kepada orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya.

Bagi saya, ada sesuatu yang sangat menarik di sini. Doa bukan aktivitas yang harus kita sembunyikan agar terlihat lebih spiritual. Meminta kepada Allah justru merupakan bagian dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Nabi Muhammad ﷺ bahkan mengajarkan kepada Ibn Abbas:

“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Jami’ at-Tirmidzi 2516 dan dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi.

Perhatikan kalimatnya: “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah.”

Bukan: “Jika engkau meminta, jangan meminta apa-apa.”

Bukan pula: “Jika engkau ingin meminta, pastikan terlebih dahulu bahwa motivasimu sudah sempurna.”

Justru Nabi mengarahkan aktivitas meminta itu sendiri:

Kalau engkau meminta, mintalah kepada Allah.

Maka bagi saya, persoalan utamanya bukan “transaksional” atau tidak

Di sinilah saya ingin menawarkan cara pandang yang sedikit berbeda.

Saya tidak ingin terjebak pada pertanyaan apakah seseorang yang shalat dhuha karena ingin rezeki berada pada level spiritual 5, 7,5, atau 9. Tetapi kalau harus menggunakan analogi sederhana, saya mungkin akan mengatakan begini: ya, mungkin itu belum nilai 9. Tetapi jangan buru-buru memberinya nilai 5.

Kalau seseorang shalat dhuha karena berharap rezeki, bagi saya mungkin ia belum sampai pada bentuk keikhlasan yang paling matang. Tetapi ia tetap melakukan ibadah. Ia tetap menghadap Allah. Ia tetap meminta kepada Allah.

Ia masih berada dalam proses.

Dan bagi saya, itu jauh lebih baik daripada seseorang yang ketika membutuhkan sesuatu justru mencari jalan yang membawa dirinya kepada kesyirikan.

Bayangkan dua orang yang sama-sama ingin mendapatkan rezeki.

Orang pertama berkata, “Saya ingin rezeki. Saya akan shalat dhuha, berdoa, dan memohon kepada Allah.”

Orang kedua berkata, “Saya ingin rezeki. Saya akan mencari orang yang menawarkan kekuatan gaib tertentu. Saya akan melakukan ritual tertentu karena saya percaya ada kekuatan selain Allah yang dapat memberikan apa yang saya inginkan.”

Apakah kita akan mengatakan bahwa keduanya hanya berbeda tingkat keikhlasannya?

Bagi saya, tidak.

Ada perbedaan teologis yang jauh lebih mendasar.

Yang pertama masih mengarahkan permintaannya kepada Allah.

Yang kedua mulai mengarahkan ketergantungannya kepada selain Allah.

Al-Qur’an sangat tegas tentang tauhid. Dalam QS. Al-Jinn ayat 18 disebutkan:

“Maka janganlah kamu menyembah apa pun selain Allah.”

Dan QS. An-Nisa’ ayat 48 memberikan peringatan yang sangat keras tentang syirik: Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya bagi orang yang menghadap-Nya dengan keadaan demikian tanpa taubat, sementara dosa selain syirik berada di bawah kehendak-Nya.

Karena itu, saya justru merasa perlu mengubah cara kita melihat orang yang berada pada tahap “saya butuh sesuatu, maka saya datang kepada Allah”.

Saya tidak ingin pertama-tama mengatakan kepadanya:

“Kamu belum ikhlas.”

Saya ingin mengatakan:

“Alhamdulillah. Kamu masih meminta kepada Allah.”

Shalat dhuha sebagai jalan yang ia pilih untuk mengetuk pintu Allah

Mungkin ada yang mengatakan, “Tetapi dia shalat dhuha hanya karena ingin rezeki.”

Ya. Memang.

Dan justru itulah yang sedang kita bicarakan.

Dia meyakini bahwa shalat dhuha adalah salah satu jalan yang dapat ia tempuh untuk memohon kepada Allah. Ia menjadikan ibadah itu sebagai bagian dari usahanya untuk mengetuk pintu Allah.

Saya tidak mengatakan bahwa setiap keyakinan spesifik tentang keutamaan suatu amalan otomatis memiliki dasar dalil yang sahih. Itu harus diperiksa satu per satu. Kita tetap perlu membedakan antara keyakinan yang memiliki dasar syariat yang kuat dengan keyakinan populer yang berkembang di masyarakat.

Tetapi pada level fenomenanya, saya tidak melihat alasan untuk mempermalukan orang tersebut hanya karena ia datang kepada Allah dengan sebuah harapan.

Bahkan saya melihat sesuatu yang positif: ia sedang mencari jalan kepada Allah.

Kalau kemudian dalam proses belajarnya ia mengetahui bahwa niat ibadah perlu diperbaiki, silakan diperbaiki. Kalau ia mengetahui bahwa suatu amalan tertentu ternyata tidak memiliki dasar khusus seperti yang selama ini ia kira, silakan dikoreksi. Kalau ia belajar bahwa ibadah bukan sekadar alat untuk mendapatkan sesuatu, silakan ia bertumbuh.

Tetapi koreksi tidak harus dimulai dengan penghukuman.

Kita bisa memperbaiki keyakinannya tanpa membuatnya malu untuk beribadah.

Yang saya khawatirkan adalah rasa bersalah yang salah arah

Saya lebih khawatir pada satu akibat psikologis tertentu.

Ketika seseorang terus mendengar bahwa ibadahnya “transaksional”, ia bisa mulai merasa tidak layak datang kepada Allah.

Ia ingin meminta jodoh, tetapi merasa bersalah.

Ia ingin meminta rezeki, tetapi merasa bersalah.

Ia ingin meminta perlindungan, tetapi merasa bersalah.

Ia ingin meminta kesembuhan, tetapi merasa bersalah.

Akhirnya ia datang ke masjid dengan rasa bersalah. Ia berdoa dengan rasa tidak nyaman. Ia membaca Al-Qur’an sambil bertanya-tanya apakah dirinya sedang terlalu banyak meminta.

Padahal bisa jadi persoalan awalnya sangat sederhana:

Dia hanya sedang menjadi manusia yang membutuhkan Tuhan.

Saya tidak mengatakan bahwa perasaan tidak layak pasti menjadi penyebab doa tidak dikabulkan. Saya kira kita tidak boleh membuat klaim teologis sesederhana itu. Allah memiliki kehendak dan hikmah-Nya sendiri dalam menjawab doa.

Tetapi secara psikologis, saya kira kita perlu serius melihat akibatnya ketika seseorang dibuat merasa bahwa membawa kebutuhan kepada Allah adalah sesuatu yang memalukan.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengajarkan manusia tentang keikhlasan sehingga kita justru membuatnya takut untuk berdoa.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengatakan, “Jangan beribadah karena ingin sesuatu,” sehingga seseorang justru berhenti beribadah karena ia merasa motivasinya belum cukup suci.

Saya justru ingin mengatakan kepadanya:

Teruslah datang.

Niatmu nanti bisa diperbaiki.

Cara pandangmu nanti bisa dimatangkan.

Hubunganmu dengan Allah nanti bisa berkembang.

Tetapi jangan berhenti datang kepada Allah hanya karena hari ini kamu masih datang membawa kebutuhan.

Jangan membuat anak tangga pertama menjadi sesuatu yang memalukan

Saya kembali pada metafora anak tangga.

Seseorang yang shalat karena ingin mendapatkan jodoh mungkin berada pada anak tangga pertama. Seseorang yang shalat karena Allah sekaligus memohon jodoh mungkin berada pada anak tangga berikutnya. Seseorang yang tetap shalat ketika doanya belum dikabulkan mungkin sudah naik lagi. Dan seseorang yang tetap beribadah kepada Allah ketika keinginannya tidak terpenuhi mungkin sudah menemukan bentuk tawakal dan penghambaan yang lebih dalam.

Saya tidak ingin menghapus anak tangga itu.

Saya justru ingin mempertahankannya.

Karena menurut saya, tujuan pendidikan spiritual bukan menghapus anak tangga pertama, tetapi membantu seseorang naik ke anak tangga berikutnya.

Kalau seseorang baru shalat karena ingin jodoh, jangan suruh dia berhenti shalat karena belum ikhlas.

Bantu dia agar suatu hari ia bisa berkata:

“Saya memang ingin jodoh, tetapi saya juga ingin dekat dengan Allah.”

Lalu mungkin suatu hari lagi:

“Saya tetap ingin jodoh, tetapi kalau Allah belum memberikannya, saya tetap akan beribadah.”

Dan suatu hari mungkin:

“Saya tidak lagi mengukur kedekatan saya dengan Allah berdasarkan apakah semua permintaan saya dikabulkan.”

Itulah proses.

Yang kita perlukan adalah pendampingan, bukan penghinaan.

Saya juga melihat pola yang sama dalam belajar membaca Al-Qur’an

Ada sebuah analogi sederhana yang menurut saya relevan.

Bayangkan ada seseorang yang baru belajar membaca Al-Qur’an. Bacaannya masih terbata-bata. Tajwidnya belum sempurna. Makharijul hurufnya masih sering salah. Ia membaca dengan susah payah, tetapi ia terus membaca.

Kemudian ada orang yang mengkritiknya:

“Bacaanmu salah.”

Akhirnya ia malu dan berhenti membaca.

Di sisi lain ada seseorang yang tidak pernah membaca Al-Qur’an sama sekali. Tentu saja ia tidak pernah salah membaca. Tidak pernah salah tajwid. Tidak pernah salah makhraj.

Apakah kita kemudian menyimpulkan bahwa orang kedua lebih baik hanya karena ia tidak mempunyai kesalahan dalam membaca Al-Qur’an?

Tentu tidak.

Ia tidak memiliki kesalahan tersebut karena ia tidak melakukan proses yang memungkinkan kesalahan itu terjadi.

Saya melihat fenomena yang sama dalam banyak hal.

Orang yang mencoba merawat orang tuanya mungkin melakukan kesalahan dalam prosesnya. Ada konflik, ada perbedaan pendapat, ada kalimat yang salah, ada keputusan yang kurang tepat. Tetapi ia hadir. Ia berinteraksi. Ia mencoba merawat.

Sementara orang yang tidak pernah bertemu dan tidak pernah berinteraksi dengan orang tuanya mungkin tidak memiliki konflik apa pun.

Bukan karena ia lebih baik.

Tetapi karena tidak ada proses yang sedang dijalani.

Karena itu saya memiliki satu prinsip sederhana:

Jangan membandingkan kesalahan orang yang sedang berjalan dengan ketiadaan kesalahan orang yang tidak berjalan.

Orang yang sedang belajar memang akan salah.

Orang yang sedang beribadah mungkin belum sempurna.

Orang yang sedang mendekat kepada Allah mungkin masih membawa banyak kepentingan.

Tetapi selama ia masih berjalan menuju arah yang benar, saya tidak ingin membuatnya malu karena langkahnya belum sempurna.

Keikhlasan seharusnya menjadi tujuan pertumbuhan, bukan alat untuk menghakimi

Saya tetap percaya pada keikhlasan.

Saya tetap percaya bahwa seseorang pada akhirnya perlu belajar beribadah bukan hanya karena menginginkan sesuatu.

Saya tetap percaya bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah dapat berkembang dari sekadar “Ya Allah, berikan saya sesuatu” menjadi “Ya Allah, saya ingin Engkau ridha kepada saya.”

Tetapi saya tidak ingin keikhlasan dijadikan alat untuk menghakimi.

Sebab menurut saya, semakin matang seseorang secara spiritual, seharusnya semakin besar pula kemampuannya untuk menghargai proses manusia lain.

Orang yang benar-benar memahami perjalanan seharusnya tahu bahwa tidak semua orang memulai dari tempat yang sama.

Ia tidak perlu berkata kepada orang yang baru mulai:

“Kamu salah karena masih seperti itu.”

Ia bisa berkata:

“Teruskan. Apa yang kamu lakukan sekarang sudah membawamu kepada Allah. Nanti kita belajar bersama bagaimana memperbaiki niat dan memperdalam hubunganmu dengan-Nya.”

Menurut saya, itu jauh lebih dekat dengan pendidikan daripada penghakiman.

Saya tidak malu mengatakan bahwa saya meminta kepada Allah

Pada akhirnya, saya ingin tulisan ini kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana dan personal.

Saya tidak malu meminta kepada Allah.

Kalau saya membutuhkan jodoh, saya akan meminta kepada Allah.

Kalau saya membutuhkan rezeki, saya akan meminta kepada Allah.

Kalau saya membutuhkan perlindungan, saya akan meminta kepada Allah.

Kalau saya ingin sesuatu, saya akan meminta kepada Allah.

Dan kalau dalam proses meminta itu saya melakukan ibadah tertentu karena berharap Allah memberikan apa yang saya minta, saya tidak ingin langsung merasa hina.

Saya ingin terus memperbaiki niat saya, tentu saja.

Saya ingin belajar ikhlas, tentu saja.

Saya ingin suatu hari mampu mencintai Allah bukan hanya karena apa yang saya terima dari-Nya, tentu saja.

Tetapi saya juga ingin menghargai titik tempat saya berdiri hari ini.

Ketika saya berkata,

“Ya Allah, saya ingin ini. Saya butuh itu. Saya mohon berikan kepada saya,”

saya sedang mengatakan sesuatu yang sangat mendasar:

“Ya Allah, saya adalah hamba. Engkau adalah Tuhan. Saya membutuhkan, dan saya meminta kepada-Mu.”

Bagi saya, itu bukan sesuatu yang memalukan.

Justru saya bersyukur.

Sebab di tengah begitu banyak kemungkinan manusia mencari tempat bergantung, saya masih ingin memilih Allah sebagai tempat saya meminta.

Kalau seseorang mengatakan bahwa itu belum merupakan tingkat keikhlasan yang paling tinggi, mungkin saya akan menerimanya.

Mungkin memang belum.

Tetapi saya tidak akan menyebutnya sebagai sebuah kegagalan.

Saya akan menyebutnya sebuah proses.

Dan selama seseorang masih datang kepada Allah, masih meminta kepada Allah, masih berharap kepada Allah, dan masih belajar memperbaiki dirinya di hadapan Allah, saya kira ada satu hal yang patut kita lakukan sebelum memberikan penilaian:

bersyukur bahwa ia masih mengetuk pintu yang benar.

Sebab mungkin tugas kita bukan mengatakan kepada seseorang bahwa ia belum cukup ikhlas.

Mungkin tugas kita adalah memastikan bahwa ia tidak berhenti mengetuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *