Mengapa Banyak Orang Sulit Berubah Walau Sudah Berupaya Keras? Ini Masalah Utamanya

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang selalu meremehkan dirinya sendiri? Ketika dipuji karena hasil kerjanya bagus, ia justru menjawab, “Ah, itu hanya kebetulan.” Ketika orang lain mengatakan bahwa ia sebenarnya cerdas, ia menganggap orang tersebut hanya sedang menghiburnya. Bahkan setelah berkali-kali berhasil, ia tetap merasa dirinya tidak cukup baik.

Sebaliknya, ada juga orang yang menerima pujian dengan tenang. Ia tidak merasa harus menyangkalnya, tetapi juga tidak menjadi sombong. Ia mampu menerima penilaian positif karena memang sesuai dengan cara ia memandang dirinya sendiri.

Fenomena ini menimbulkan sebuah pertanyaan menarik. Mengapa ada orang yang begitu sulit menerima penilaian positif, bahkan ketika kenyataannya menunjukkan bahwa ia memang berhasil?

Banyak orang menganggap masalahnya adalah kurang percaya diri atau kurang motivasi. Namun, psikologi memberikan penjelasan yang jauh lebih dalam daripada itu.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori self-verification yang dikembangkan oleh William B. Swann Jr.

Menurut Swann, setiap orang memiliki self-view, yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri. Self-view tidak selalu positif, tetapi juga tidak selalu negatif. Ia hanyalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang siapa dirinya.

Yang menarik, Swann menunjukkan bahwa manusia tidak selalu mencari penilaian yang positif. Dalam banyak situasi, manusia justru lebih menyukai penilaian yang konsisten dengan self-view yang dimilikinya.

Artinya, seseorang yang melihat dirinya sebagai pribadi yang kompeten akan merasa nyaman ketika orang lain juga menganggapnya kompeten. Sebaliknya, seseorang yang melihat dirinya sebagai orang yang tidak mampu justru sering kali lebih mudah menerima penilaian negatif dibandingkan pujian yang bertentangan dengan pandangan dirinya sendiri.

Temuan ini menunjukkan bahwa bagi manusia, konsistensi identitas sering kali lebih penting daripada sekadar merasa nyaman sesaat karena menerima pujian.

Perlu dicatat, self-view tersebut tidak selalu akurat. Ada self-view yang memang sesuai dengan kenyataan, tetapi ada pula yang terbentuk dari pengalaman masa lalu, kritik yang terus-menerus diterima, kegagalan, atau penilaian yang keliru terhadap diri sendiri. Meskipun demikian, mekanisme self-verification tetap bekerja. Seseorang akan cenderung mencari lingkungan yang mengonfirmasi cara ia melihat dirinya, baik self-view tersebut akurat maupun bias.

Pelajaran Dari Sebuah Research

Dari teori tersebut, saya melihat satu pelajaran yang sangat menarik. Sering kali masalah terbesar seseorang bukan terletak pada kemampuannya, melainkan pada cara ia memandang dirinya sendiri.

Bayangkan seorang karyawan yang sebenarnya memiliki kemampuan memimpin. Rekan-rekannya mempercayainya. Atasannya berkali-kali memberikan kesempatan untuk memimpin sebuah proyek. Namun, setiap kali kesempatan itu datang, ia berkata, “Saya tidak cocok menjadi pemimpin.”

Lama-kelamaan, ia mulai menolak tantangan, menghindari tanggung jawab, dan memilih tetap berada di zona yang menurutnya aman.

Masalahnya bukan karena ia tidak mampu.

Masalahnya adalah karena self-view yang dimilikinya tidak sesuai dengan kenyataan.

Contoh lain dapat kita temukan dalam dunia pendidikan. Ada siswa yang sejak kecil sering mendengar bahwa dirinya bodoh. Meskipun nilainya mulai membaik, ia tetap merasa dirinya tidak pintar. Ketika berhasil, ia menganggapnya hanya keberuntungan. Ketika gagal sekali, kegagalan itu justru dianggap sebagai bukti bahwa penilaiannya terhadap dirinya memang benar.

Di sinilah saya melihat sesuatu yang penting.

Kita sering berpikir bahwa perubahan dimulai dari motivasi, afirmasi positif, atau dorongan dari luar. Namun, teori Swann memberikan pelajaran bahwa selama self-view seseorang belum berubah, ia akan terus mencari pengalaman yang mengonfirmasi cara lama ia melihat dirinya.

Dengan kata lain, banyak orang sebenarnya tidak hidup sesuai kenyataan.

Mereka hidup sesuai dengan self-view yang mereka miliki tentang dirinya sendiri.

Menurut saya, transformasi harus dimulai dari perubahan self-view

Dari teori tersebut, saya berpendapat bahwa transformasi yang bertahan lama tidak dimulai dari berpikir positif semata.

Seseorang dapat mengucapkan afirmasi setiap pagi, mengikuti seminar motivasi, atau membaca buku pengembangan diri. Namun, jika di dalam dirinya ia masih percaya bahwa dirinya tidak layak, tidak mampu, atau tidak pantas berhasil, maka cepat atau lambat ia akan kembali pada pola lama yang sesuai dengan self-view tersebut.

Karena itu, perubahan yang lebih mendasar adalah membangun self-view yang lebih sehat.

Proses ini tentu tidak mudah. Self-view tidak berubah hanya karena satu kalimat motivasi. Ia berubah melalui pengalaman-pengalaman baru yang terus-menerus, refleksi diri, keberhasilan kecil yang diakui, dan lingkungan yang secara konsisten memperlakukan kita sesuai dengan identitas yang ingin kita bangun.

Inilah mengapa lingkungan menjadi sangat penting. Mentor yang percaya kepada kita, pasangan yang mendukung perkembangan kita, teman-teman yang mendorong kita bertumbuh, atau budaya kerja yang memberikan kepercayaan dapat menjadi ruang yang membantu terbentuknya self-view yang baru.

Bagi saya, inilah pelajaran terbesar dari teori self-verification. Jika kita ingin mengubah hidup seseorang, jangan hanya mengubah perilakunya. Jangan hanya memberinya motivasi.

Bantulah ia mengubah cara ia melihat dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya, perubahan yang paling bertahan lama bukan terjadi ketika seseorang mulai berpikir lebih positif, melainkan ketika ia mulai mengenali dirinya dengan cara yang lebih sehat, lebih akurat, dan lebih membangun.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *