Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang berkata bahwa pernikahan terasa seperti sebuah penjara? Bukan karena pasangannya jahat. Bukan pula karena setiap hari dipenuhi pertengkaran besar. Ia hanya merasa kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.
Setelah menikah, ia menjadi lebih berhati-hati ketika berbicara. Ia harus berpikir berkali-kali sebelum bertindak. Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa, sekarang menjadi sumber ketegangan. Ia tidak lagi merasa bebas tertawa, bercanda, memilih hobi, bertemu teman, atau menikmati sesuatu yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya.
Pelan-pelan, ia merasa hidup sebagai orang lain.
Namun, ada juga pasangan yang mengalami hal sebaliknya. Setelah menikah, mereka justru merasa lebih tenang. Mereka tidak perlu berpura-pura. Tidak harus memainkan peran tertentu. Tidak merasa dituntut menjadi sosok yang berbeda. Mereka tetap memiliki kekurangan, tetap punya kebiasaan yang tidak sempurna, tetapi merasa diterima.
Menariknya, dua hubungan ini bisa sama-sama berangkat dari cinta. Keduanya bisa sama-sama diawali dengan harapan baik. Tetapi mengapa hasilnya bisa sangat berbeda?
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep self-verification yang dikembangkan oleh William B. Swann Jr. Secara sederhana, Swann menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk dipahami sebagaimana ia memandang dirinya sendiri. Kita tidak hanya ingin dicintai. Kita juga ingin dikenali secara tepat.
Setiap orang memiliki self-view, yaitu cara ia melihat dirinya sendiri. Dalam hubungan dekat, termasuk hubungan romantis dan pernikahan, seseorang akan merasa lebih nyaman ketika pasangannya melihat dirinya dengan cara yang sesuai dengan self-view tersebut.
Jika saya melihat diri saya sebagai A, lalu pasangan saya juga melihat saya sebagai A, maka saya merasa dipahami. Saya merasa, “Dia mengenal saya.” Dalam kondisi seperti ini, hubungan cenderung lebih stabil dan komitmen menjadi lebih kuat.
Sebaliknya, jika saya melihat diri saya sebagai A, tetapi pasangan saya terus menuntut saya menjadi B, maka muncul ketegangan. Bukan selalu karena pasangan saya buruk, tetapi karena saya merasa tidak dikenali sebagaimana saya mengenali diri saya sendiri.
Swann menjelaskan bahwa ketika kesesuaian antara self-view dan cara pasangan memandang diri kita tinggi, hubungan cenderung lebih kuat. Ketika kesesuaiannya sedang, hubungan cenderung berada pada tingkat sedang. Tetapi ketika jaraknya besar, hubungan menjadi lebih mudah dipenuhi konflik, ketegangan, dan rasa tidak nyaman.
Ketika self-view bertabrakan dengan harapan pasangan
Dalam kehidupan sehari-hari, teori ini menjadi sangat konkret.
Bayangkan seorang laki-laki yang melihat dirinya sebagai orang yang masih senang menikmati keindahan. Ketika ada perempuan cantik lewat, ia mungkin melihat sebentar. Ketika membuka media sosial, ia sesekali menikmati foto atau video perempuan yang menurutnya menarik. Bagi dirinya, itu wajar. Tidak ada niat menghubungi, berselingkuh, atau membangun hubungan lain.
Tetapi istrinya memiliki harapan berbeda. Menurut istrinya, suami yang baik seharusnya tidak lagi melihat perempuan lain sama sekali. Suami ideal adalah suami yang seluruh perhatian visual, emosional, dan romantisnya hanya tertuju kepada istrinya.
Di sinilah muncul jarak antara self-view dan expected view. Self-view adalah: “Saya memang seperti ini.” Expected view adalah: “Aku ingin kamu menjadi seperti ini.”
Ketika jarak keduanya terlalu jauh, seseorang mulai memakai topeng. Ia tidak benar-benar berubah. Ia hanya belajar menyembunyikan diri. Ketika ada perempuan menarik lewat, ia buru-buru mengalihkan pandangan. Ketika membuka media sosial, ia melakukannya diam-diam. Bukan karena dirinya sudah menjadi orang yang berbeda, tetapi karena ia tahu versi dirinya yang asli tidak diterima.
Contoh lain bisa terjadi pada hobi. Sebelum menikah, seseorang sangat suka memancing. Baginya, memancing bukan sekadar menangkap ikan. Itu adalah ruang tenang, cara melepas stres, cara bertemu teman, bahkan bagian dari identitas kecil yang membuat hidupnya terasa seimbang.
Namun setelah menikah, pasangannya tidak menyukai hobi itu. Setiap kali ia ingin pergi memancing, muncul komentar: “Kamu lebih memilih ikan daripada keluarga.” Atau, “Kalau sudah menikah, harusnya hobi seperti itu dikurangi.” Lama-lama, ia berhenti memancing. Tetapi di dalam dirinya, ia tidak benar-benar ikhlas. Ia hanya merasa tidak punya ruang.
Dari luar, mungkin terlihat sederhana. Hanya soal melihat perempuan cantik. Hanya soal memancing. Hanya soal kebiasaan kecil. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, itu bukan sekadar perilaku. Itu adalah bagian dari rasa menjadi diri sendiri.
Di sinilah hubungan mulai terasa melelahkan. Bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena cinta menuntut seseorang terus-menerus menjadi versi yang bukan dirinya.
Membangun hubungan tanpa topeng
Lalu, apa yang bisa dilakukan ketika self-view dan expected view tidak sama?
Menurut saya, hubungan yang sehat bukan berarti dua orang selalu memiliki pandangan yang sama sejak awal. Itu hampir mustahil. Setiap orang masuk ke dalam hubungan dengan sejarah, kebiasaan, luka, nilai, dan ekspektasinya masing-masing.
Yang penting bukan tidak adanya perbedaan. Yang penting adalah bagaimana dua orang mengelola jarak antara self-view dan expected view.
Ada tiga jalan yang bisa ditempuh.
Pertama, belajar melihat pasangan sebagaimana ia melihat dirinya sendiri. Ini tidak berarti membenarkan semua perilakunya. Tetapi sebelum menuntut perubahan, kita perlu memahami dulu: “Apa makna perilaku ini bagi dirinya?” Bisa jadi sesuatu yang bagi kita tampak sepele, bagi pasangan adalah bagian penting dari identitasnya.
Kedua, menurunkan ekspektasi yang terlalu ideal. Banyak orang tidak benar-benar menikahi manusia. Ia menikahi bayangan tentang manusia ideal yang ada di kepalanya. Ketika pasangan nyata tidak sesuai dengan bayangan itu, ia kecewa. Padahal yang bermasalah bukan selalu pasangannya, melainkan ekspektasi yang terlalu jauh dari realitas.
Ketiga, membangun titik tengah. Tidak semua hal harus dimenangkan oleh salah satu pihak. Dalam contoh tadi, mungkin suami tidak harus berpura-pura tidak pernah melihat perempuan cantik. Tetapi ia juga perlu menjaga batas: tidak menggoda, tidak menghubungi, tidak bermain di belakang pasangan. Dalam contoh hobi, mungkin seseorang tetap boleh memancing, tetapi waktunya disepakati agar tidak mengabaikan keluarga.
Titik tengah bukan berarti kehilangan diri. Titik tengah adalah ruang di mana dua orang belajar hidup bersama tanpa saling menghapus identitas masing-masing.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang membuat seseorang sempurna. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat seseorang merasa cukup aman untuk tidak memakai topeng.
Sebab ketika seseorang bisa berkata, “Pasanganku tahu siapa aku, termasuk kurangku, dan aku tetap diterima,” di situlah hubungan memiliki fondasi yang kuat.
Bukan karena tidak ada konflik. Tetapi karena dua orang tidak sedang saling memaksa menjadi orang lain.
