Orang Sukses Bukan Pengambil Risiko, tetapi Pengelola Risiko

Banyak seminar bisnis mengajarkan satu pesan yang sama. Jika ingin sukses, beranilah mengambil risiko. Keluar dari pekerjaan. Tinggalkan zona nyaman. Bakar kapalmu agar tidak ada jalan untuk kembali.

Narasi seperti ini terdengar heroik. Seolah-olah semakin besar risiko yang kita ambil, semakin besar pula peluang kita untuk berhasil.

Akibatnya, tidak sedikit orang yang mengambil keputusan besar dalam kondisi yang sebenarnya belum siap. Mereka mengundurkan diri dari pekerjaan tanpa memiliki tabungan yang memadai. Mereka menghabiskan seluruh tabungannya untuk membangun bisnis. Bahkan ada yang menggunakan dana yang seharusnya menjadi biaya pendidikan anak atau dana darurat keluarga dengan alasan, “Kalau tidak nekat, kita tidak akan pernah sukses.”

Namun, benarkah keberanian mengambil risiko adalah faktor utama yang membedakan orang sukses dengan yang gagal?

Apa yang dijelaskan Adam Grant?

Dalam bukunya Originals, Adam Grant justru menawarkan cara pandang yang berbeda. Menurut Grant, banyak orang yang berhasil membangun inovasi besar ternyata bukanlah pengambil risiko yang gegabah. Mereka adalah pengelola risiko yang sangat baik.

Grant memberikan berbagai contoh. Salah satunya adalah bagaimana banyak pendiri perusahaan besar tidak langsung meninggalkan pekerjaan atau pendidikan mereka ketika mulai membangun usahanya. Mereka mempertahankan sumber pendapatan, menyelesaikan studi, atau tetap memiliki jaring pengaman sebelum benar-benar melangkah lebih jauh.

Grant juga mengutip berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang membangun bisnis sambil tetap bekerja sering kali memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang langsung keluar dari pekerjaannya. Mereka bukan kurang berani. Mereka hanya memastikan bahwa keputusan bisnis tidak diambil dalam kondisi tertekan oleh kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Pesan utama Grant sangat menarik. Keberhasilan tidak selalu datang kepada orang yang mengambil risiko terbesar. Sering kali keberhasilan justru datang kepada mereka yang mampu mengelola risiko dengan lebih cerdas.

Pelajaran yang saya ambil dari buku ini

Dari seluruh gagasan dalam buku ini, saya melihat bahwa inti persoalannya bukan sekadar bisnis. Yang sebenarnya dibahas adalah bagaimana kondisi psikologis memengaruhi kualitas pengambilan keputusan.

Ketika seseorang berada dalam tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup bulan depan, membayar cicilan, atau memenuhi kebutuhan keluarganya, pikirannya akan lebih banyak digunakan untuk bertahan daripada berpikir kreatif. Setiap keputusan terasa seperti hidup atau mati.

Sebaliknya, ketika seseorang memiliki ruang aman, cara berpikirnya berubah. Ia dapat mengevaluasi peluang dengan lebih tenang, lebih objektif, dan tidak mudah panik ketika menghadapi kegagalan sementara.

Saya melihat pola ini bukan hanya dalam dunia bisnis.

Seorang karyawan yang memiliki dana darurat biasanya lebih berani menyampaikan ide baru dibandingkan mereka yang hidup dari gaji ke gaji. Seorang peneliti yang memiliki dukungan pendanaan lebih berani mencoba pendekatan baru dibandingkan mereka yang setiap hari khawatir apakah proyek berikutnya masih ada. Bahkan dalam kehidupan pribadi, rasa aman sering kali membuat seseorang lebih mampu berpikir jernih dibandingkan ketika seluruh energinya habis untuk mengatasi kecemasan.

Bagi saya, keberanian bukan muncul karena seseorang mengabaikan rasa takut. Keberanian sering kali muncul karena seseorang telah mempersiapkan dirinya dengan baik.

Menurut saya, yang perlu kita bangun terlebih dahulu adalah safety sebelum growth

Dari buku ini, saya justru semakin yakin bahwa pertanyaan pertama sebelum mengambil keputusan besar bukanlah, “Seberapa besar peluangnya?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Seberapa aman saya jika keputusan ini ternyata gagal?”

Selama ini saya mencoba menggunakan prinsip tersebut dalam berbagai keputusan penting.

Saya selalu berusaha membangun zona aman terlebih dahulu. Saya ingin memiliki tabungan yang cukup, dana darurat yang memadai, dan memastikan kebutuhan pokok keluarga tetap terlindungi. Setelah itu barulah saya menyiapkan dana yang memang saya relakan untuk bertumbuh, bereksperimen, atau bahkan gagal.

Jika investasi itu berhasil, saya memperoleh pertumbuhan. Jika investasi itu gagal, kehidupan saya tidak ikut hancur.

Bagi saya, ada perbedaan besar antara uang untuk hidup dan uang untuk bertumbuh. Uang untuk hidup tidak boleh dipertaruhkan. Sebaliknya, uang untuk bertumbuh memang harus siap menghadapi kemungkinan untung maupun rugi.

Karena itu, saya tidak melihat safety sebagai lawan dari keberanian. Justru safety adalah fondasi yang membuat seseorang mampu mengambil risiko dengan lebih rasional.

Mungkin inilah pelajaran terbesar yang saya ambil dari Originals. Orang-orang hebat bukanlah mereka yang selalu melompat paling jauh.

Mereka adalah orang-orang yang terlebih dahulu memastikan bahwa ketika lompatan itu tidak berjalan sesuai rencana, mereka masih memiliki tempat yang aman untuk kembali berdiri dan mencoba lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *