Saat Hidupku Terjebak Di Jalan Buntu

“Banyak solusi tidak terlihat di awal perjalanan. Solusi baru mulai memperlihatkan dirinya setelah kita berani melangkah.”

Saya hampir gagal membeli sebidang tanah karena kekurangan uang sekitar lima puluh juta rupiah.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak terlalu besar. Namun bagi saya saat itu, jumlah tersebut jauh melampaui kemampuan finansial yang saya miliki. Semua perhitungan yang saya buat beberapa bulan sebelumnya meleset. Penghasilan yang saya perkirakan tidak datang sesuai rencana. Sementara waktu terus berjalan. Saya hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk melunasi pembayaran.

Saya masih ingat betul apa yang saya lakukan saat itu. Saya tidak panik. Bukan karena saya tahu solusinya. Justru sebaliknya, saya sama sekali tidak tahu dari mana solusi itu akan datang.

Saya kemudian melakukan sesuatu yang selama ini selalu saya lakukan ketika menghadapi masalah besar. Saya menyebutnya mapping.

Banyak orang menghabiskan energi untuk mencari penyebab sebuah masalah. Siapa yang salah? Mengapa ini bisa terjadi? Siapa yang harus bertanggung jawab?

Saya memilih jalan yang sedikit berbeda. Pertanyaan pertama saya bukan, “Mengapa ini terjadi?” Tetapi, “Situasi saya sebenarnya seperti apa?”

Saya memetakan semuanya dengan sangat jujur. Berapa kekurangan saya? Berapa waktu yang tersisa? Apa saja yang masih saya miliki?

Setelah itu saya membuat pemetaan kedua.

“Sumber daya apa yang masih saya punya?” Tabungan saya hitung. Aset yang mungkin bisa dijual saya hitung. Potensi penghasilan saya hitung. Relasi yang saya miliki juga saya pikirkan.

Hasilnya tetap sama. Dari seluruh sumber daya yang saya miliki, saya hanya sanggup mengumpulkan sekitar lima belas juta rupiah.

Artinya, saya masih kekurangan sekitar tiga puluh lima juta rupiah. Secara logika, saya sudah mentok. Tetapi di titik itulah saya belajar bahwa ketika logika berhenti bekerja, bukan berarti kita ikut berhenti.

Saya berkata kepada istri saya, “Pasti ada solusinya.” Saya tidak tahu bentuknya. Saya tidak tahu datangnya dari mana.

Tetapi saya memilih untuk mempercayai bahwa setiap masalah selalu membawa jalan keluarnya. Keesokan paginya saya tetap berangkat bekerja.

Bukan dengan keyakinan bahwa hari itu saya pasti mendapatkan uang. Tetapi dengan niat sederhana, “Hari ini saya sedang menjemput solusi.” Saya mulai menghubungi beberapa teman. Saya bertanya apakah ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan.

Beberapa hari kemudian, saya memperoleh sebuah proyek yang menghasilkan sekitar lima belas juta rupiah. Masalah saya memang belum selesai. Tetapi sekarang kekurangannya tinggal dua puluh juta rupiah.

Saya terus bergerak. Saya mulai bercerita kepada beberapa saudara mengenai keadaan yang sedang saya hadapi. Saya tidak sedang meminta bantuan. Saya hanya menceritakan situasinya.

Di luar dugaan saya, kakek dari istri saya berkata, “Saya punya uang yang kebetulan belum saya gunakan. Kalau kamu membutuhkan, pakailah dulu.” Jumlahnya dua puluh lima juta rupiah.

Hari itu saya belajar sesuatu yang tidak pernah saya lupakan sampai hari ini. Sering kali solusi memang tidak terlihat ketika kita masih berdiri di titik awal.

Solusi baru mulai muncul setelah kita melangkah.

Kalau hari itu saya memilih diam di rumah karena merasa semua jalan sudah tertutup, saya mungkin tidak pernah mendapatkan proyek tersebut. Saya juga mungkin tidak pernah menceritakan keadaan saya kepada keluarga sehingga tidak pernah mengetahui bahwa ternyata ada pertolongan yang memang sudah tersedia.

Pengalaman itu mengubah cara saya menghadapi hampir semua masalah dalam hidup. Setiap kali menghadapi situasi yang sulit, saya selalu mencoba melakukan empat hal.

Pertama, memetakan situasi apa adanya. Kedua, memetakan sumber daya yang masih saya miliki. Ketiga, terus bergerak, meskipun saya belum yakin langkah itu akan langsung membawa saya kepada jawaban. Dan keempat, menjaga harapan.

Bagi saya, menjaga harapan bukan berarti menunggu keajaiban tanpa melakukan apa-apa. Menjaga harapan berarti tetap berusaha semaksimal mungkin, sambil percaya bahwa Tuhan sering kali memperlihatkan jalan keluar yang sebelumnya tidak mampu kita lihat.

Sejak saat itu, saya berhenti menuntut diri saya untuk selalu mengetahui seluruh jawabannya sejak awal. Saya hanya perlu mengetahui satu langkah berikutnya. Karena saya percaya, tugas saya bukan melihat seluruh jalan. Tugas saya hanyalah terus melangkah.

Dan sering kali, justru di langkah berikutnya itulah solusi mulai memperlihatkan dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *